Rabu, 14 Mei 2025

Bokong Yang Kusuka New Era Part 7

Pagi itu, suasana di kantor terasa lebih berat dari biasanya. Sabi duduk di mejanya, matanya kehilangan fokus, seperti jiwanya terjebak dalam bayang-bayang malam yang belum selesai. Layar komputer di depannya hanya menjadi latar kosong, sementara pikirannya melayang jauh, menghantui setiap detik yang berlalu.

Kemudian, suara langkah kaki yang begitu familiar memecah kesunyian. Sabi menoleh, dan di ambang pintu, berdiri Addie, wajahnya dipenuhi ekspresi yang hati-hati, penuh perasaan yang tak terucap. Tak ada kata yang keluar dari mulut Sabi, hanya tatapan yang menyiratkan ketegangan dan kebingungan, seolah ada suatu perasaan yang menggantung di antara mereka.

"Aku mau minta maaf," suara Addie terdengar begitu pelan, namun penuh ketulusan. “Kemarin malam... itu bukan yang aku harapkan. Aku... aku nggak mau kita berubah jadi asing lagi."

Sabi menatapnya, matanya berusaha menembus lapisan kebingungan yang ada. Namun, di balik tatapan itu, ada sebuah perasaan yang lebih dalam, yang tak pernah terungkapkan sebelumnya. Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, tapi ada di sana, mengalir perlahan di dalam dirinya.

“Kamu nggak perlu minta maaf,” jawab Sabi, suaranya lembut, hampir seperti bisikan angin yang meresap dalam kesunyian. “Aku ngerti."

Addie mengangguk, tatapannya menunjukkan kejujuran yang jarang ia tunjukkan, seperti membuka pintu hatinya dengan penuh kerentanan. “Aku mau kita bisa terus ngobrol, tetap bisa ada satu sama lain. Tanpa ada yang disembunyikan, tanpa ada canggung yang menghalangi.”

Keheningan mengisi ruang di antara mereka, seolah waktu terhenti sesaat. Masing-masing dari mereka tengah memikirkan kata-kata yang tepat untuk menanggapi, merangkai jembatan yang akan menghubungkan mereka kembali. Setelah beberapa detik, Sabi tersenyum, senyum yang tulus, meski masih ada sedikit kebingungannya. Namun, senyum itu penuh harapan, seolah ia percaya bahwa kedekatan mereka bisa dipulihkan dengan hati yang terbuka.

“Kita akan coba,” jawabnya pelan, dengan tatapan yang lebih tenang, lebih dalam. “Sebagai teman. Pelan-pelan, seperti apapun yang perlu kita lewati.”

Addie tersenyum kecil, lalu melangkah mendekat, memberi ruang bagi Sabi untuk merasa lebih nyaman, lebih aman. “Terima kasih... karena sudah mengerti,” ucapnya dengan lembut, suaranya seperti menyembuhkan segala ketegangan yang sempat mengganggu mereka. Meski hanya satu kalimat, itu seperti jembatan yang menghubungkan dua hati yang sempat terpisah oleh kebingungannya.

Setelah percakapan itu, suasana di kantor mulai kembali seperti biasa, namun ada sesuatu yang tak terungkapkan di antara Sabi dan Addie. Seperti dua jiwa yang saling mengenal tanpa perlu berbicara, mereka berjalan berdampingan dalam keheningan yang penuh makna. Ada ikatan tak terlihat yang semakin hari semakin terasa kuat, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persahabatan, meski keduanya masih takut untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

Setiap kali Sabi menatap Addie, hatinya bergetar dengan perasaan yang tak pernah ia duga. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertemuan mata, seolah-olah mereka berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh keduanya. Ini bukan lagi sekadar persahabatan; ini adalah sesuatu yang lebih intim, lebih rawan, namun juga lebih tulus.

* * *

Hari demi hari berlalu, dan meskipun mereka berbicara lebih sering, ada kalanya percakapan mereka tak lebih dari sekadar tentang pekerjaan, tentang hal-hal ringan yang tak terlalu penting. Tetapi ketika mata mereka bertemu, ada sesuatu yang lebih berharga dari sekadar kata-kata. Keheningan itu sendiri berbicara lebih banyak daripada apa pun yang sempat terucap.

Pagi itu, Sabi sedang duduk di sebuah kafe kecil dekat kantornya di Singapura, menikmati secangkir kopi yang hangat. Suasana kota yang sibuk terasa sedikit asing baginya, meskipun ia sudah beberapa minggu tinggal di sana. Ia merasa kota ini menawarkan begitu banyak tempat yang belum sempat ia jelajahi, jalan-jalan sempit yang penuh warna, taman-taman yang tersembunyi, dan tentu saja, pemandangan megah yang terkenal di dunia.

Saat itulah, Addie datang menghampirinya, dengan senyum lebar yang selalu membuat Sabi merasa nyaman. "Besok libur kan, nggak lembur?" tanyanya, duduk di meja yang berseberangan dengan Sabi.

"Ya, kebetulan projectku udah selesai" jawab Sabi, matanya tidak bisa disembunyikan dari rasa ingin menatap Addie berlama-lama.

"Gimana kalau besok kita jalan?" tawar Addie dengan penuh semangat. "banyak tempat yang belum kamu lihat. Aku bakal nunjukin tempat-tempat favoritku di sini. Aku yakin kamu akan suka."

Sabi terkejut. "Bukannya besok kamu jadi sang penyembuh pegal-pegal."

Addie hanya tertawa pelan, "Aku udah resign. Ternyata ada yang lebih penting daripada cuma ngejar duit."

"Lagian dulu kan aku kesepian, sekarang nggak lagi" lanjut Addie menyunggingkan senyumnya.

Sabi memandang wajah Addie yang penuh keyakinan, dan akhirnya ia mengangguk. "Oke, aku ikut. Aku emang butuh lebih banyak eksplorasi tentang kota ini."

* * *

Hari itu, langit Singapura bersih seperti kanvas yang baru dibentangkan. Mentari turun perlahan, menyinari jalan-jalan sempit di Tiong Bahru, sebuah kawasan tua yang menyimpan denyut masa lalu, namun tetap berdegup dalam napas kota modern.

Addie berjalan lebih dulu, sesekali menoleh untuk memastikan Sabi mengikutinya. Wajah Sabi tampak terpukau, matanya menjelajahi dinding-dinding art deco yang berjejer anggun seperti puisi diam, tiap sudutnya menyimpan cerita yang belum usai.

“Tempat ini kayak kota kecil dalam mimpi,” ujar Sabi pelan, nyaris seperti gumaman.

Addie tersenyum, senyuman yang tak dibuat-buat. “Dulu aku sering datang ke sini saat hari libur. Rasanya… dunia melambat.”

Mereka menyusuri lorong-lorong toko buku kecil, galeri seni yang tersembunyi di balik tembok putih berlumut, dan kafe yang aroma kopinya seolah mengundang kenangan. Suasana Tiong Bahru membawa mereka pada ketenangan yang tak bisa dibeli oleh waktu, sebuah nostalgia yang lembut, tapi hidup.

Sabi berhenti di depan sebuah toko tua yang menjual barang-barang antik. Ia menyentuh bingkai foto berdebu yang memuat gambar keluarga dari masa silam. Matanya terdiam sejenak, seolah mencoba membaca kisah di balik senyum seseorang yang bahkan tak pernah ia kenal.

“Kamu suka tempat-tempat kayak gini?” tanya Addie, suaranya pelan namun menghangatkan, seperti matahari sore yang menyentuh kulit dengan lembut.

“Karena tempat kayak gini jujur,” jawab Sabi. “Tempatnya nggak menyembunyikan waktu. Menua dengan indah, dan nerima setiap jejak yang tertinggal.”

"Kamu itu seharusnya jadi sastrawan, malah jadi bagian keuangan" ledek Addie tak serius karena mendengar ucapan Sabi yang terlalu puitis di telinganya.

Mereka lalu duduk di bangku kayu di depan sebuah kafe kecil, menyeruput kopi sambil menatap kehidupan yang berjalan pelan di sekeliling mereka. Burung-burung gereja hinggap di kabel-kabel, dan angin membawa wangi roti dari toko sebelah.

“Di tempat ini,” kata Addie pelan, “Aku merasa bisa jadi siapa pun yang aku mau. Tanpa harus menjelaskan apa pun.”

Sabi menoleh. Tatapan mereka bertemu. Dalam diam, ada rasa yang tak terucap. Bukan cinta yang terburu-buru, tapi rasa tenang yang tumbuh seperti akar, pelan, tapi mengikat kuat.

“Mungkin itu alesannya kamu bawa aku ke sini,” bisik Sabi, “karena kamu pengen aku tahu diri kamu lebih dalam… melalui tempat-tempat yang kamu cintai.”

"Kamu terlalu kepedean."

Addie memalingkan wajahnya. Ia menatap ke depan, senyum samar mengambang di sudut bibirnya, seperti seseorang yang akhirnya menemukan seseorang yang bisa duduk bersamanya tanpa harus menjadi orang lain.

Sore perlahan turun, dan cahaya keemasan mulai merayap di dinding bangunan tua. Di antara derap langkah kaki yang perlahan dan aroma kopi yang masih tersisa di cangkir mereka, Sabi dan Addie duduk berdua, tanpa janji, tanpa harapan besar, hanya rasa nyaman yang tak bisa dijelaskan.

Dan mungkin, itu cukup. Karena di Tiong Bahru, yang tua tetap indah, dan yang sederhana terasa sangat berarti.

*  *  *

Malam perlahan menuruni langit Singapura, mengganti sinar mentari dengan kerlip lampu-lampu jalan yang redup dan bersahaja. Dari Tiong Bahru, mereka berpindah langkah ke Haji Lane, sebuah lorong sempit yang hidup dengan warna, namun malam ini justru menyajikan kesunyian yang indah.

Dinding-dinding mural menyapa mereka dengan riuh warna yang membisu. Seni jalanan menjadi semacam gema bisu dari jiwa-jiwa yang pernah melintas di sana. Jiwa yang patah, jatuh cinta, atau mungkin hanya ingin dikenang.

Addie berjalan sedikit di depan, dan Sabi mengikutinya dalam diam. Tak perlu banyak kata, karena malam itu, kehadiran satu sama lain sudah cukup untuk membuat langkah terasa ringan.

“Tempat ini selalu ngebuat aku ngerasa nggak sendiri,” ucap Addie tiba-tiba, matanya menyapu mural yang menggambarkan wajah-wajah tak dikenal.

Sabi menatapnya dari samping, dan dalam sorot mata Addie ia melihat bukan sekadar keramaian yang pernah dilalui, tapi juga ruang-ruang sunyi dalam hatinya yang belum pernah ia buka di hadapan siapa pun.

“Lucu ya,” kata Sabi pelan. “Di tengah tempat yang penuh warna dan cerita ini, yang paling menenangkan justru adalah diamnya kita.”

Mereka berhenti di depan sebuah toko kecil yang tutup lebih awal malam itu. Di balik kacanya, tergantung lampu kuning pucat yang menyala seperti kenangan lama, sayup, namun tetap hidup. Sedangkan diujung jalan terlihat keramaian namun baik Addie dan Sabi tidak tertarik mendekati keramaian di kafe-kafe itu.

Addie duduk di trotoar, menyandarkan punggungnya ke dinding yang hangat. Sabi ikut duduk di sampingnya. Bahu mereka nyaris bersentuhan, tapi tak ada yang bergerak lebih dekat. Seolah keintiman malam itu hadir bukan dari sentuhan, melainkan dari keberanian untuk saling diam bersama.

“Kamu pernah nggak ngerasa... takut untuk bahagia?” tanya Addie tiba-tiba, suaranya pelan, seperti takut jika pertanyaannya terlalu jujur.

Sabi menoleh perlahan. “Pernah. Karena kadang bahagia datang dengan batas waktu. Kita nggak tahu kapan bahagia itu harus pergi. Dan ... aku nggak siap kehilangan bahagia itu.”

"Kenapa nanya gitu?" tanya Sabi ingin tahu.

"Kamu masih inget waktu itu aku bilang mungkin udah 6 tahunan aku nggak ...."

"Nggak dimasukin" Sabi memotong ucapan Addie.

Addie mengangguk, menunduk sejenak. “Kamu mau denger cerita aku dan alasannya?”

Sabi mengulurkan tangannya pelan, tidak memaksa, hanya membiarkan jarinya menyentuh ujung jari Addie. Sentuhan yang ringan, tapi mengguncangkan.

"Aku sebenernya penasaran dan pengen tau, tapi aku nggak mau ngelanggar privasi kamu" ucap Sabi jujur.

"Lebih dari 6 tahun lalu, aku pernah cinta mati sama orang. Dia yang pertama tahu aku gay. Orang pertama yang bilang kalau aku layak dicintai. Tapi juga orang pertama yang ninggalin aku karena nggak siap memperjuangkan semua itu."

Suasana menjadi sunyi. Angin malam berhembus, mengibas wajah mereka.

“Aku udah berusaha lupain dia,” lanjut Addie, suaranya nyaris berbisik. “Tapi aku juga belum sepenuhnya selesai sama kenangan tentang dia.”

Sabi duduk semakin rapat. Ada rasa yang mengendap di dadanya. Sesuatu antara cemburu dan takut.

“Kamu masih cinta?” tanya Sabi, berani tapi getir.

Addie menggeleng pelan. “Nggak. Tapi kadang... rasa itu ninggalin bentuk. Kayak bekas luka. Nggak nyeri, tapi kita tahu itu pernah ada.”

Sabi menunduk, menatap bangunan lain di seberangnya. “Sama. Aku juga punya bekas luka.”

Sekilas bayangan Mario kembali hadir di pikiran Sabi, namun buru-buru ia menepisnya. 

"Jadi ... apa karena ketemu aku, kamu ngerasa flashback ke kenangan hidup kamu sebelumnya?" tanya Sabi fokus pada topik obrolan mereka.

"Sedikit, karena aku harus di posisi itu lagi" jawab Addie termenung.

"Selama ini kamu ngentotin orang, udah nggak pernah dientot lagi."

Addie mendaratkan pukulan pelan di pundak Sabi, "aku lebih suka kamu yang puitis daripada kamu yang vulgar."

Sabi tertawa terbahak-bahak, "iya, maaf. Aku nggak akan ulangi lagi."

"Maaf ya, Sab. Aku nggak bermaksud jual mahal sama kamu. Sebenernya bukan cuma sakit di bagian itu yang jadi alasan aku, tapi ada rasa yang lain yang bikin aku ...."

"Aku udah pernah bilang, nggak perlu buru-buru" Sabi memotong lagi ucapan Addie, seperti tak ingin melihat Addie terlalu meresapi kesedihannya.

Sabi menatap Addie tajam, tak berkedip sedikitpun, "tapi sebetulnya kamu emang beneran mau dientot sama aku?"

"Mulutnya bener-bener" decih Addie pura-pura kesal.

"Terus aku harus pakai bahasa apa?" Sabi memutar otak dengan raut wajah bingung, "oh gini, sebetulnya terowongan casablanca kamu itu beneran mau dimasukin kereta berbiji dua punyaku?"

Tawa Addie pecah begitu saja, meledak dari dadanya seperti gelombang yang tak bisa ditahan. Perutnya sampai meringis kram, namun tawanya terus mengalir, jujur dan lepas. Suara Sabi barusan dengan istilah yang entah dari mana datangnya terlalu lucu untuk dilewatkan begitu saja.

Beberapa pasang mata yang melintas di Haji Lane sempat melirik ke arah mereka, tapi Addie tak peduli. Malam ini, ia hanya ingin menjadi manusia biasa yang bisa tertawa tanpa alasan yang rumit.

“Aku nggak mau jawab, nanti kamu terlalu percaya diri,” katanya sambil mengusap air mata kecil di ujung tawa, lalu berdiri perlahan, membenarkan letak tasnya.

“Yuk, kita lanjut ke tempat favoritku berikutnya,” ucap Addie sambil menoleh ke arah Sabi. Senyum masih tersisa di sudut bibirnya, tapi nada suaranya berubah, lebih dalam. “Kali ini gantian... Aku mau jadi pendengar dari luka-luka yang pernah kamu simpan diam-diam.”

Sabi ikut bangkit, debu tipis dari trotoar menempel di ujung celananya. Ia berdiri sejajar dengan Addie, menatap mata yang tak hanya jernih, tapi juga penuh keberanian untuk menyentuh masa lalu orang lain.

“Yakin?” tanya Sabi pelan, nyaris seperti bisikan yang takut ditelan angin malam. “Kamu benar-benar pengen denger?”

Addie mengangguk, lembut namun pasti. “Nggak akan ada satu pun suara dari hati kamu yang akan aku padamkan. Nggak akan ada satu luka pun yang akan aku lewatkan. Ceritalah… aku akan mendengarnya seperti seseorang yang mencintai keheningan karena tahu di dalamnya ada gema yang menunggu untuk disambut.”

"Kamu lebih cocok jadi sastrawan ketimbang design grafis" sahut Sabi mengulang kata yang pernah Addie lemparkan kepadanya.

Dan malam pun diam, seolah memberi ruang bagi dua hati yang mulai membuka diri. Di antara tembok-tembok yang bercerita lewat warna, di tengah lorong yang biasanya riuh oleh tawa turis, kini hanya ada dua jiwa yang saling memahami: bukan karena janji, tapi karena rasa yang tumbuh dalam tenang.

Haji Lane malam itu tak gemerlap, tapi bagi Sabi dan Addie, lorong itu menjadi saksi bahwa keintiman tak selalu datang dari pelukan, kadang ia tumbuh dari keberanian untuk duduk bersama, dalam diam, dan tetap merasa utuh.

Mereka melangkah lagi, menyusuri lorong sempit yang kini tak lagi sekadar jalur kaki, tapi juga lorong menuju jiwa masing-masing, saling membuka, saling mengizinkan.

* * *

Langkah mereka akhirnya terhenti di sebuah tempat yang seolah bukan milik bumi, Gardens by the Bay, taman futuristik yang menjelma seperti lukisan dari semesta lain. Dari kejauhan, Supertree Grove menjulang, siluetnya memahat langit malam yang mulai gelap, dihiasi cahaya lampu yang perlahan menyala satu per satu, seperti bintang-bintang yang jatuh dari langit dan bersarang di pepohonan besi itu.

Sabi berdiri terpaku, matanya membelalak pelan, seolah ia sedang menatap sebuah mimpi yang tiba-tiba menjadi nyata.

“Ini... tempat favorit kamu?” tanyanya lirih.

Addie mengangguk, berdiri di sampingnya. “Iya. Di sini, aku ngerasa kayak waktu berhenti sebentar. Semua hal berat dalam hidup, pekerjaan, luka, masa lalu, seakan mengecil saat berdiri di bawah pohon-pohon raksasa ini. Seolah kita cuma perlu bernapas... dan saling ada.”

Sabi tak menjawab, hanya membiarkan kata-kata itu mengendap di dalam dadanya. Lampu-lampu berwarna lembut mulai menari di sekitar mereka, menciptakan bayangan halus di wajah Addie. Sabi menoleh, memperhatikan tiap lekuk ekspresi itu, mata yang bersinar, bibir yang tenang, dan napas yang perlahan menyesuaikan ritme alam di sekelilingnya.

“Aku suka tempat ini,” gumam Sabi, “karena di sinilah kamu jadi paling jujur. Bukan karena kata-kata kamu, tapi karena cara kamu.”

Addie menoleh, senyumnya mengembang perlahan. “Kamu merhatiin aku?”

“Lebih dari yang kamu kira,” jawab Sabi pelan, namun nadanya hangat, seperti selimut tipis yang menutup pelan-pelan tubuh yang menggigil.

Mereka berjalan menuju akar-akar cahaya yang menjulur di bawah Supertree, dan ketika pertunjukan cahaya malam dimulai, lampu-lampu berwarna pastel yang menari mengikuti alunan musik klasik. Sabi dan Addie duduk berdampingan di bangku taman. Tak ada jarak yang terlalu dekat, tapi juga tak cukup jauh untuk menyembunyikan degup jantung yang tak biasa.

Addie menyandarkan kepalanya di bahu Sabi, perlahan dan tanpa kata. Tak ada pernyataan, tak ada pengakuan. Tapi dalam gestur sederhana itu, ada rasa yang tumbuh seperti benih yang diam-diam berakar.

Sabi tak berkata apa-apa. Ia hanya menoleh sedikit, memastikan bahwa kepala Addie betul-betul bersandar padanya, lalu menghela napas pelan, napas yang membawa harapan kecil, bahwa mungkin, malam ini adalah awal dari keberanian untuk merasa.

Dan di atas mereka, langit malam menggelap dengan anggun, sementara cahaya buatan menari, seolah menyanyikan lagu yang hanya bisa didengar oleh dua jiwa yang sedang belajar untuk saling menyembuhkan.

Sabi menoleh pelan, memandangi wajah Addie yang diterangi cahaya lembut dari lampu taman. Udara malam menyapu pelan, membawa aroma laut dan bunga yang mengembang di kejauhan. Suaranya keluar lirih, namun hangat—seolah kata-kata itu telah menunggu waktu yang tepat untuk dilahirkan.

“Terima kasih, ya… karena kamu udah bawa aku ke tempat-tempat yang kamu sayang. Dan ternyata… aku juga ikut jatuh cinta di tiap langkahnya.”

Addie menatap Sabi, sejenak tak berkata-kata. Tapi matanya .... mata itu sudah bicara lebih dulu, menyimpan rasa yang tak butuh banyak penjelasan. Malam terasa lebih utuh, karena mereka berdua saling menemukan bukan hanya di tempat-tempat yang indah, tapi juga di keheningan yang saling memahami.

Addie akhirnya bicara, suaranya serak ringan, seperti tawa kecil yang tertahan oleh rasa.
“Ini baru awal. Besok pagi aku mau ajak kamu lagi… ke tempat yang juga punya cerita.”

Sabi menyambut dengan senyum tipis, lalu menggoda pelan, suaranya seperti bisikan daun yang jatuh ke tanah basah.
“Kalau gitu… berarti aku harus nginep di kamar kamu malam ini.”

Addie menahan tawa, memiringkan kepala dengan tatapan penuh selera humor dan kedekatan yang mulai terasa akrab.
“Aku tahu itu cuma alasan manis yang dibungkus nakal. Tapi… aku juga tahu, aku nggak punya alasan yang cukup kuat untuk nolak.”

Mereka tertawa pelan. Bukan karena lelucon semata, tapi karena hati mereka tahu, ada rasa yang tumbuh perlahan, seperti taman yang sedang mekar saat fajar hampir tiba.

Bokong Yang Kusuka New Era Part 6

Seakan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang datang setelah mereka sampai di kamar apartement Addie, Sabi melepas seluruh pakaiannya, sehingga tak ada satupun helai benang yang menutupi tubuh Sabi saat ini. Sabi menarik tubuh Addie mendekat, melancarkan ciuman pada bibir Addie yang mungkin tak menyangka jika Sabi mendadak seperti menyerangnya.

''Oh wow, kamu nggak bisa sabar sedikit" ujar Addie tersenyum, sedikit menahan tawa saat berhasil membebaskan dirinya dari gumatan bibir Sabi.

"Sorry'' ujar Sabi mengusap bibirnya yang tak sopan.

"Dont worry, I like it'' balas Addie tersenyum dan memandang Sabi dengan penuh tatapan menggoda.

Tangan Addie dengan nakal menyentuh penis Sabi, lalu ia kembali mendekat dan menyerahkan bibirnya untuk kembali dilumat oleh Sabi, namun kali ini Addie ikut melakukan pergerakan, ia dengan mudah mengikuti ritme dari gerakan bibir Sabi. Saling melumat, saling mengecap dan saling memberikan gigitan pelan, tangan Addie pun tak tinggal diam, ia mulai memijat batang penis Sabi yang sudah berdiri paripurna, belaian tangan itu membuat Sabi mendesah dalam ciuman dan aroma nafas mereka yang menyatu.

Addie menyudahi ciuman itu, ia menunduk seakan memperhatikan batang penis Sabi yang ia genggam. Tersenyum sebentar mendongak untuk memandang Sabi, lalu seolah tahu apa yang Sabi inginkan, kini wajah Addie tepat di depan penis yang sudah tak sabar ingin merasakan kehangatan di dalam ruangan itu.

Addie menjulurkan lidahnya, menjilati pucuk penis Sabi layaknya es krim, perlahan namun pasti, ia membuka mulut dan membiarkan penis Sabi masuk utuh ke dalam mulutnya.

"Ahh ... " Sabi mendesah saat batang penisnya terasa hangat di dalam mulut Addie .

Nikmat, jelas. Sabi sudah puasa bertahun-tahun saat dirinya kehilangan Mario. Ia baru mengulang kembali saat kemarin dirinya sempat pulang ke Indonesia. Selama ini Sabi berusaha menahan hasratnya, namun kali ini Sabi tak ingin lagi menahan diri, ia sudah sangat lama menginginkan hal seperti ini terjadi, dengan ataupun tanpa Mario.

"Ohhh ... Fuck."

Sabi mendesis bagaikan ular, tubuhnya sedikit mengejang saat penisnya menyentuh tenggorokan Addie. Tangan Sabi bahkan menggepal erat seakan bingung mencari pegangan.

Addie mendongak, menghentikan hisapan demi hisapan yang ia lakukan pada penis Sabi.

"Don't stop" pinta Sabi seakan jiwanya hilang sebagian saat Addie menyudahi aksinya.

"You can touch my head if you want" ujar Addie , seakan berbisik namun hembusannya terdengar di telinga Sabi.

Sabi kehilangan kendali, ia memegangi kepala Addie , menggerakkan pinggulnya dengan ritme cepat sehingga penisnya merojok cukup kasar di dalam mulut Addie .

"Aghh ...Fuck" Sabi mengerang, sekujur tubuhnya ikut mengeras.

Addie mendorong tubuh telanjang Sabi, membuat tubuh telanjang itu menghempas kasur empuk berlapiskan sprey berwarna coklat itu sedikit terguncang. Lalu dengan buas hisapan-demi hisapan kembali Addie luncurkan.

Sabi menginginkan lebih, ia tak hanya ingin menikmati hangatnya tenggorokan Addie, ia ingin sesuatu yang lain, sesuatu yang ia rindukan pada pemilik bokong yang ia suka sewaktu dulu, terlebih lagi saat melihat pinggul Addie yang sedikit menungging, bentuknya mengingatkan Sabi pada bokong yang dulu sering ia jelajahi.

Tangan Sabi bergerak meraba punggung Addie dan seketika berhenti di area pinggul Addie lalu mengusap pinggul itu dengan lembut. Jemari Sabi mulai berani mencari celah dari celana Addie, berniat memasukkan tangannya ke dalam bokong sekal yang masih tertutup celana kain itu.

"Oh wait."

Addie terkejut, ia menarik dirinya sedikit menjauh sehingga penis Sabi kembali merasakan kehampaan ketika mulut Addie tak lagi memainkan penisnya. Addie menatap Sabi, tatapan itu seakan penuh pertanyaan, ada guratan bingung di wajah Addie, sangat jelas terlukis disana.

"Kamu nggak suka?" Sabi lirih, menyesal atas apa yang ia lakukan.

"Kamu Top?" Addie memicingkan mata saat melontarkan pertanyaan itu kepada Sabi.

"Apa aku harus jawab?" ujar Sabi mengambil bantal lalu menutupi penisnya yang masih berdiri.

"Sorry," gantian Addie yang meminta maaf, "Aku nggak bermaksud apa-apa, tapi kamu serius mau masukin aku?" Addie kembali bertanya sambil menunjuk penis Sabi yang masih mengacung.

Pertanyaan Addie membuat Sabi semakin bingung, ia sungguh tidak paham dengan lelaki di depannya, sejak tadi semua berjalan baik-baik saja bahkan Addie terlihat sangat menginginak hal itu berlanjut. Namun mendadak semua berubah saat Sabi berusaha menginginkan hal yang lebih.

"Ya, aku top. Pure Top" Sabi menekan nada bicaranya, "kenapa pertanyaan semacam ini harus banget dijawab di dunia gay."

Addie tersenyum lucu melihat tingkah Sabi yang terlihat tersinggung dengan pertanyaannya. Addie mendekat, mendaratkan kecupan di pipi Sabi.

''Sorry kalau kamu nggak suka dengan pertanyaan aku" Addie melukiskan wajah bersalah, "Actually, its been a long time, aku udah nggak pernah di posisi yang kamu mau."

"Maksud kamu ...?"

"Aku nggak pernah dientod, Sab" Adi memotong dengan frontal.

"So ... role kita sama" lirih Sabi murung, penisnya seketika layu dalam keadaan segar.

Addie menggeleng, "nggak juga, aku bisa jadi apapun tergantung partnernya."

Secercah cahaya harapan muncul di benak Sabi, wajahnya menyiratkan bahwa masih ada kesempatan untuk mendapatkan hangat dan nikmat malam ini.

"Oke, aku perjelas aja. Mungkin udah 5-6 tahun aku udah nggak jadi bottom" lanjut Addie, raut wajahnya seolah mengingat akan sesuatu.

"Kalau kamu nggak siap, kita bisa lupain aja" ujar Sabi berusaha untuk mengerti.

"Aku nggak bilang kalau aku nggak mau, kan" Addie membuka perlahan kemejanya hingga celananya, membuang pakaian yang menutupi tubuhnya sembarangan. "We can try."

Sabi tersenyum nakal, ia menaikkan alisnya lalu merengkuh tubuh Addie yang telanjang kedalam pelukannya.

Udara kamar makin hangat, bukan karena suhu, tapi karena cara mereka saling diam—diam yang memancing, menantang, dan menjerat.

Sabi duduk di tepi ranjang, memangku Addie dengan saling berhadapan. Addie menggerakkan bokongnya pelan, gerakan yang nyaris seperti angin. Sentuhan itu membuat Sabi meremang. Ia menggigit bibirnya sebentar, lalu membuka mata, menatap Addie lekat-lekat.

“Aku suka cara kamu melihat aku,” bisik Sabi, suaranya sedikit bergetar. “Tapi lebih suka saat kamu berhenti hanya melihat.”

Addie tersenyum samar. “Kamu yakin mau aku lanjut? Aku bisa berubah jadi Singa yang kelaparan.”

Sabi mengangguk pelan. “Terlambat untuk mundur.”

Addie mendekat. Hidung mereka bersentuhan. Tak ada ciuman, belum. Tapi panasnya begitu terasa, seolah udara di antara mereka berubah jadi aliran listrik yang liar dan halus sekaligus.

“Cium aku,” kata Sabi akhirnya, pelan, hampir seperti doa.

Tapi Addie justru tersenyum nakal. “Aku lebih suka kamu yang narik aku.”

Sabi menatap tajam. Tangannya naik ke tengkuk Addie, menariknya perlahan... lalu berhenti. “Kamu terlalu tenang. Itu bikin aku tambah penasaran.”

Addie membisik di bibirnya sendiri, nyaris menempel pada Sabi. “Kalau aku kehilangan kendali... kamu siap?”

Sabi menutup jarak itu, bukan dengan bibir, tapi dengan napas. Mereka saling menghirup kehadiran satu sama lain. Pelan. Dalam. Lama. Dan akhirnya bibir mereka bertemu, itu bukan sembarang ciuman. Itu adalah pertemuan dua hasrat yang sepertinya sudah terlalu lama ditahan. Lembut pada awalnya, lalu tumbuh jadi kelaparan yang indah. Jemari mereka mencari, bukan untuk menguasai, tapi untuk mengenali. Mengingat kemudian menyatu.

Addie melingkarkan lengannya ke leher Sabi, menarik lebih dekat, sementara Sabi membiarkan tangannya menjelajahi punggung Addie, berhenti di tempat-tempat yang membuatnya menggeliat pelan.

"Wait, we need lube" lirih Addie sedikit ngos-ngosan mengakhiri ciuman liar Sabi ditambah lagi penis Sabi yang tegang menggesek persis di tengah bagian bokongnya.

Sabi mencium bahu Addie, perlahan, lalu naik ke lehernya. Sentuhan itu bukan sekadar godaan—ia seperti doa yang lama dipendam, akhirnya menemukan tempatnya. Sabi menarik napas dalam, jemarinya menyelusup ke bongkahan sekal di belakang sana, yaitu bokong milik Addie.

“Kita nggak harus buru-buru,” bisik Sabi.

“Aku nggak buru-buru,” jawab Addie. “Aku cuma... nggak mau menyia-nyiakan waktu.”

Addie kembali menggiring mulutnya menuju bagian inti tubuh Sabi, bagian inti yang masih menegang, bagai roket yang siap diluncurkan, Addie merasakan tangannya hangat saat menggenggam bagian itu, bagian yang memiliki batang kokoh dengan dua bola indah menggantung, tak membiarkan waktu menunggu, Addie kembali menggiring benda itu masuk kedalam mulutnya.

"Aaaahhh...." Sabi mendesah dalam pejaman matanya.

Addie terus menggerakkan kepalanya senada, naik turun seperti sedang dalam posisi memompa. Ia kerahkan sekuat tenaga segala gaya, menjilat, menghisap, melumat, sehingga menghasilkan dercikan air liur yang membasahi batang kejantanan Sabi.

Sabi melenguh, mengerang, mendesah, menyadari kenyataan bahwa bibir dan mulut Addie begitu nyata bermain main di senjatanya, senjata yang cukup besar, cukup panjang dan masih kokoh bagai pilar bangunan. Ahh ... nikmat, hangat, dan dahsyat, setidaknya itulah yang Sabi rasakan.

Tak tahan dengan ritme permainan mulut Addie, tubuh Sabi mengejang, otot-otot tubuhnya sedikit nyata terlihat.

Menyadari pasangan bercintanya akan mengeluarkan sesuatu yang menembak mulutnya, Addie bukannya menghindar, tapi ia membiarkan mulutnya makin terbenam, ia biarkan cairan kejantanan Sabi melesat masuk ke dalam tenggorokannya, sebagian menetes di bibirnya, Addie tersenyum, mengusap sisa cairan kejantanan Sabi yang bertengger di pinggir bibirnya, melumuri secara merata di batang penis milik Sabi.

"Masih bisa lanjut?" Addie bertanya, namun lebih seperti menantang.

Sabi menarik nafas panjang, ia terengah sedikit mengingat dirinya sudah tak muda lagi seperti dulu, namun senyum tipis ia sunggingkan dari bibirnya, "siapa takut."

Dengan gerakan cepat namun tetap penuh kendali, Sabi menarik tubuh Addie mendekat, lalu membaringkannya ke atas ranjang. Tak ada rasa sakit, hanya kejutan kecil yang membuat dada Addie berdebar. Mata mereka bertemu, tatapan yang bicara lebih banyak daripada kata-kata.

Sabi menunduk, wajahnya hanya sejengkal dari Addie, dan untuk sesaat, dunia menyusut hanya pada ruang sempit di antara napas mereka.

Addie mengangguk pelan, tak ada kata terucap. Tapi sorot matanya jernih seakan berkata: aku siap, aku percaya padamu.

Addie memejamkan mata, napasnya tak teratur, antara menahan rasa yang asing dan membiarkan dirinya larut di dalamnya. Ada sensasi yang datang perlahan, seperti gelombang halus yang merambat melalui tubuh dan hati secara bersamaan.

Sabi memeluknya erat, gerakannya lembut, penuh kehati-hatian, seolah setiap sentuhan adalah janji untuk tidak melukai. Ia membaca tubuh Addie seperti buku yang suci, disentuh dengan rasa hormat dan kasih, bukan nafsu semata.

Sabi memejamkan mata. Ada desakan halus di dadanya, rasa terhimpit yang anehnya tak menyakitkan, justru membawa kenikmatan yang berbeda. Ia menyusuri setiap detik layaknya bait-bait puisi yang tak tertulis, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam ritme yang hanya bisa dimengerti oleh dua jiwa yang saling terbuka.

Desah napas Sabi dan napas Addie bertemu di tengah, bersatu dalam satu irama, lirih tapi penuh arti saat Sabi berusaha masuk senti demi senti, seperti nada tanpa lirik yang tetap bisa bicara. Dalam keheningan yang begitu dekat, mereka menciptakan bahasa sendiri… bahasa yang tak butuh kata, hanya rasa.

"Sakit ...." Addie meringis, bulir air mata keluar dari kelopaknya yang sayup diantara terpejam dan setengah terbeliak. "Please, dont move. Give me a second."

Sabi menatap wajah Addie yang sendu, lelaki itu tidak berbohong, terlukis jelas rasa sakit di raut wajah itu. Sabi diam tak bergerak, namun jemarinya dengan lembut mengusap bulir air mata yang menitik di wajah Addie.

Addie menarik nafas panjang, "I think I am ready" ujar Addie tidak sepenuhnya yakin.

Sabi bergerak pelan, pinggulnya mulai membuat gerakan yang menghentak dengan lembut.

"Stop it... I can't, please" Addie memelas.

Sabi merasakan sedikit kecewa, namun ada perasaan yang lebih mendalam mengendap dalam hatinya—rasa iba yang begitu kuat. Keinginan yang semula membakar dalam dirinya mendadak meredup, seolah segala gairah yang ada mengalir pelan, turun seperti air yang meresap ke tanah. Ia merasa tubuhnya juga turut merasakan hal yang sama, turun perlahan dari kasur empuk yang sempat memberi kenyamanan.

Dengan cepat, ia mengenakan pakaiannya kembali, gerakannya terburu-buru, seolah ingin menutup kembali segala ketegangan yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Namun, meski ia bergerak cepat, hatinya tetap terdiam, tak bisa mengabaikan perasaan yang hadir begitu mendalam. Ada keraguan yang menggelayuti, tapi juga pengertian yang tak bisa disangkal.

"Aku pulang ya" ujar Sabi berusaha menutupi rasa kecewanya malam itu.

"I am sorry," Addie terduduk lemah di atas ranjang, "Aku ternyata belum siap, Sab."

"That's fine, you didn't need to say sorry, aku ngerti" ucap Sabi menghampiri Addie.

Sabi mengangkat tangannya dengan kelembutan yang nyaris tak terasa, mengusap pipi Addie seolah ingin membekukan waktu di detik itu. Ia menunduk perlahan, lalu mengecup kening lelaki itu. ringan, hangat, dan penuh makna. Sebuah janji diam yang tak perlu diucapkan, hanya dirasakan.

"Good night," bisik Sabi, suaranya seperti nyanyian kecil yang tinggal di udara.

Lalu ia berbalik, melangkah meninggalkan kamar yang masih menyimpan jejak napas mereka. Tapi kepergiannya bukanlah perpisahan, itu hanya jeda. Karena ia tahu, rasa tak selalu hadir dengan gegap gempita. Kadang, ia datang perlahan. Menunggu. Memberi ruang.

Sabi bukan benar-benar pergi dari Addie. Ia hanya memberi waktu agar saat ia kembali nanti, Addie tak hanya membuka pintu... tapi juga pelukannya sepenuhnya.

Senin, 12 Mei 2025

Bokong Yang Kusuka New Era part 5

Hari pertama Sabi di kantor barunya dimulai dengan langkah yang ragu tapi penuh tekad. Gedung kaca menjulang tinggi di pusat Orchard menyambutnya dengan pantulan langit yang bersih. Ia mengenakan kemeja putih gading yang baru disetrika semalam, berharap hari ini berjalan mulus.

Interior kantor tampak modern dan hangat. Meja-meja kayu terang, lampu-lampu gantung berwarna tembaga, dan suara sepatu di lantai vinyl membentuk irama pagi yang sibuk namun teratur. Sabi memperkenalkan diri pada beberapa rekan kerja, menghafal nama-nama dengan sopan senyum, sambil diam-diam menyeka telapak tangannya yang dingin oleh gugup.

Waktu istirahat kerja Sabi berniat untuk mencari makan, ia keluar dari ruangannya, matanya menyusuri setiap denah ruangan lain yang bersebelahan dengan ruangannya, hingga matanya menangkap satu sosok di balik workstation yang semi terbuka. Pria itu menunduk, sibuk mengetik sambil sesekali menyisipkan headphone ke telinganya. Tapi Sabi tahu. Ia tahu garis bahu itu, tahu cara tangan itu bergerak, dan tahu senyap yang justru bicara banyak.

“Hei?” panggilnya pelan, setengah tak percaya.

Pria itu mendongak, dan senyum kecil terbentuk di wajahnya seketika. “Eh... Kamu?”

Suara itu menembus balik formalitas ruangan. Bukan hanya sapaan biasa, tapi seperti percikan ke dalam kolam tenang yang tiba-tiba jadi hangat.

“Loh ... Kamu kerja di sini?” tanya Sabi, langkahnya sudah lebih dekat tanpa ia sadari.

Addie berdiri dari kursinya, lalu tertawa kecil. “Iya. Surprise, ya?” Ia menepuk meja pelan. “Bagian content design, weekdays di sini. Sabtu-Minggu… ya, kamu tahu sendiri,” katanya sambil melempar pandangan penuh isyarat.

Sabi ikut tersenyum. “Kamu nggak bilang waktu itu.”

“Gimana ya,” Addie mengangkat bahu, “klien biasanya nggak terlalu nyaman kalau tahu tukang pijat mereka juga bikin presentasi brand orang.”

Mereka tertawa kecil bersama. Suasana mendadak cair, tak sekaku lingkungan kantor yang formal. Tapi di balik tawa itu, ada hal lain yang mengendap di dada Sabi. Perasaan aneh yang belum selesai sejak pertemuan mereka sebelumnya. Seolah waktu berhenti di ruang sempit itu dan kini berdenyut lagi di tempat baru, dengan konteks yang sama sekali berbeda.

“Jadi kita bakal sering ketemu, ya?” tanya Sabi, nada suaranya sengaja dibuat ringan.

“Kayaknya begitu,” jawab Addie, menatap langsung ke arah matanya kali ini, tidak sekilas. “Tapi sekarang... bukan sebagai terapis lagi. Kali ini, kita rekan kerja.”

Ada jeda di sana. Sebuah jarak tak terlihat yang mereka berdua sadar sedang diukur ulang. Namun di balik kata-kata yang formal itu, ada kesepakatan diam-diam bahwa cerita mereka belum selesai. Hanya saja, sekarang, halaman barunya dimulai dengan setting berbeda.

Dan Sabi tahu... kantor ini mungkin bukan hanya tempatnya bekerja, tapi juga tempat di mana detak yang ia coba redam bisa kembali berdentum pelan-pelan.

"Lagi sibuk?" tanya Sabi 

"Lumayan, kenapa?" Addie balik bertanya.

Addie menyandarkan tubuhnya sebentar ke sandaran kursi, jemarinya masih menggantung di atas keyboard.

“Kenapa?” ulangnya dengan nada ringan, tapi sorot matanya tajam, seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajah Sabi.

Sabi menarik napas pelan, lalu menyandarkan lengan di tepi workstation Addie.

“Aku cuma mikir... mungkin kita bisa makan siang bareng. Kamu pasti tahu tempat yang enak di sekitar sini, kan?”

Addie menatapnya, lalu senyum itu muncul lagi, senyum yang tidak sepenuhnya profesional, tapi juga belum sepenuhnya personal. Sesuatu di antaranya.

“Aku tahu satu tempat ramen enak di ujung jalan. Nggak fancy, tapi kuahnya kayak pelukan hari Senin.”

Sabi tertawa kecil. “Kayaknya itu yang aku butuhin sekarang.”

Addie mengangguk. “Oke. Jam dua belas pas ya? Biasanya rame, tapi kalau kita jalan agak cepat, dapet tempat duduk yang bagus.”

“Deal.” Sabi mundur setengah langkah, tapi sebelum berbalik, ia berkata, “Thanks, Ad. Buat... bikin hari pertamaku di sini nggak terlalu asing.”

Addie menatapnya sebentar, lalu menjawab pelan, “Kadang, hal-hal yang asing justru bisa jadi awal yang familiar. Kita lihat aja nanti.”

Sabi melangkah pergi, tapi langkahnya terasa lebih ringan dari tadi pagi. Di balik gedung kaca yang formal ini, ada percikan kecil yang mulai menyala perlahan—tanpa terburu-buru, tanpa perlu diberi nama. Hanya dua orang yang tak sengaja dipertemukan dua kali, dan mungkin... sedang mencoba menuliskan ulang takdir, satu makan siang dalam satu waktu.

 * * *

Langit siang di Orchard tak sepenuhnya cerah, sedikit mendung, seperti menyimpan ragu tapi tetap hangat. Sabi dan Addie melangkah berdampingan keluar dari gedung, menyusuri trotoar yang ramai. Hiruk pikuk kota metropolitan terasa berbeda saat ditemani seseorang yang tak hanya akrab, tapi juga menggugah rasa yang masih menggantung.

“Apa ramen-nya beneran sehangat pelukan hari Senin?” tanya Sabi sambil melirik Addie di sebelahnya.

Addie tertawa. “Itu hiperbola marketing pribadiku, sih. Tapi rasanya emang bikin nyaman. Kamu suka pedas?”

“Kadang. Tapi hari ini kayaknya aku butuh yang gurih-gurih tenang.”

Mereka tiba di sebuah kedai ramen kecil, tersembunyi di antara deretan ruko modern. Aroma kaldu tebal menyeruak keluar begitu pintu kaca dibuka, menyambut mereka seperti memeluk dari dalam.

Mereka duduk di pojok ruangan, tepat di bawah lampu gantung bulat yang cahaya kuningnya membentuk suasana sendu namun akrab. Tak lama, dua mangkuk ramen disajikan, mengepul dengan aroma yang menggoda.

“Jadi,” Sabi membuka percakapan setelah menyeruput kuah, “apa rasanya punya dua dunia? weekdays jadi content designer, weekend jadi... penyembuh?”

Addie tersenyum tipis. “Penyembuh apanya, kemaren aja ada yang nolak disembuhin."

Sabi ikut menyunggingkan senyuman tipis mengingat kejadian tempo hari dimana Sabi menolak tawaran Addie untuk menuntaskan gairahnya.

"Lucu sih. Kadang kayak punya dua identitas. Tapi dua-duanya adalah aku, justru aku bisa bernapas karena keduanya” Lanjut Addie puitis

“Dan kamu nyaman?”

“Pernah nggak nyaman. Pernah ngerasa harus milih. Tapi aku capek berpura-pura buat sesuai ekspektasi orang. Aku milih jadi diriku sendiri bahkan kalau itu artinya orang lain akan salah paham.”

Sabi menatapnya sebentar. Kalimat itu menyentuh lebih dalam dari yang ia kira. Seolah Addie tak cuma bicara soal dirinya sendiri, tapi juga menyentuh benang-benang yang belum sepenuhnya Sabi berani tarik ke permukaan.

“Sabi,” suara Addie merendah, nyaris seperti bisikan, “aku seneng ketemu kamu lagi. Tapi aku juga tahu... ini rumit. Apalagi sekarang kita satu kantor.”

Sabi mengaduk ramen-nya perlahan. “Aku juga mikir gitu. Tapi... dari semua hal yang rumit, kamu satu-satu yang bikin aku pengen tetap rumit di dalamnya.”

Addie tertawa renyah, "please ... jangan sampai orang kantor tahu, Sab. Ini rahasia kita."

Untuk sesaat, tak ada yang bicara. Hanya suara sendok, sumpit, dan sesekali bunyi angin dari pintu yang terbuka. Sabi mengangguk. Tak perlu janji, tak perlu arah. Siang itu hanya mereka berdua, mangkuk yang hampir kosong, dan sesuatu yang tumbuh, bukan dalam kata-kata besar, tapi dari sisa kehangatan kuah ramen dan tatap mata yang mulai tak ingin berpaling.

 * * *

Sabi berjalan menuju meja Adi dengan langkah yang sedikit ragu, masih merasa asing di lingkungan kantor barunya meskipun di hari pertama bekerja ini Sabi merasa mendapatkan sambutan hangat dari semua rekan kerja di kantor itu baik dari pekerja lokal maupun pekerja yang berasal dari Indonesia. Mengenai Adi, Sabi merasa ada sesuatu yang menarik di balik pertemuan pertama mereka yang tak terduga itu, dan kini, di sini mereka kembali berada dalam satu ruang yang sama, meski dengan dinamika yang berbeda.

"Hey, Ad" Sabi menyapa pelan, menyentuh meja Addie. "Kamu udah mau pulang?"

Addie mendongak, menatapnya dengan senyum kecil. "Iya, baru aja mau beres-beres. Kamu? Mau pulang juga?"

"Emm, iya sih. Oh ya ... kamu tinggal dimana?" tanya Sabi, mencoba membuka percakapan lebih lanjut.

Addie mengerutkan kening sejenak, lalu tersenyum. "Deket sini, tepatnya di deket Paragon. Aku biasa ke kantor jalan kaki."

Sabi terkejut. "Serius? Aku juga disana" jawabnya sambil menunjuk ke arah gedung yang berada di sisi jalan yang sama. "Wah, jangan-jangan kita tetanggaan, nih."

Addie tertawa kecil. "Iya, kayaknya gitu."

Sabi berpikir sejenak, lalu dengan sedikit antusias, dia bertanya, "Gimana kalau kita pulang bareng? Bisa kali sekalian ajak aku jalan-jalan keliling Orchard, kenalin dulu aku sama tempat-tempat di sini."

Addie tersenyum lebar. "Boleh juga, aku nggak ada rencana, kok."

Mereka pun melangkah keluar dari kantor, suasana malam yang mulai terasa lebih hidup dengan lampu-lampu kota yang berkilauan memberi nuansa yang berbeda. Mereka berjalan kaki, menikmati udara malam yang sejuk sambil berbicara ringan tentang hal-hal sehari-hari. Sabi mulai merasa lebih nyaman, seolah hubungan mereka yang sebelumnya dipenuhi ketegangan kini mengalir lebih alami.

"Kalau kamu mau lihat tempat favorit aku, kita bisa ke sini," ujar Addie sambil mengarahkan Sabi ke sebuah jalan kecil yang agak sepi namun penuh dengan kafe-kafe kecil yang nyaman.

"Bukan tempat yang aneh-aneh kan?" Sabi memicingkan mata.

"Tenang, aku anehnya kalau jadi terapis doang. Di luar itu, I am normal" jawab Addie tertawa.

Mereka berdua melangkah ke arah kafe kecil yang berada di sudut Orchard, dengan pemandangan kota yang terlihat indah di kejauhan. Lampu-lampu kota yang berkilau di malam hari menciptakan suasana yang intim, seakan waktu berhenti sejenak untuk mereka berdua. Musik jazz yang lembut mengalun di latar belakang menambah kesan hangat pada malam itu.

Sabi dan Addie duduk di sebuah meja kecil dekat jendela, memesan beberapa hidangan untuk berbagi. Percakapan mereka terus mengalir, mulai dari hal-hal ringan tentang kehidupan di Singapura hingga pengalaman-pengalaman lucu yang pernah Addie alami sejak pertama kali tinggal di kota itu. Namun, semakin lama, percakapan itu mulai berubah menjadi lebih dalam.

Dari tempat itu, kota terlihat seperti lautan cahaya—lampu-lampu kendaraan menyala bak kunang-kunang, gedung-gedung tinggi memantulkan bias jingga ke langit malam yang tenang. Di dalam, musik akustik mengalun pelan, nyaris seperti bisikan, menyatu dengan denting gelas dan obrolan yang tak mengganggu.

Sabi menyentuh gelas kopinya, menatap uap yang naik perlahan seperti napas dari hari yang panjang.

“Aku suka tempat ini,” katanya pelan. “Hangat, tapi sepi. Pas.”

Addie menyesap kopinya, lalu mengangguk. “Aku sering ke sini. Biasanya sendiri. Tapi sekarang... lebih hangat.”

Sabi menoleh, mata mereka bertemu dalam diam yang tak canggung.

“Aku masih kepikiran waktu di tempat pijat itu,” ucap Sabi tiba-tiba, jujur.

Addie menoleh pelan. “Kan udah kamu tolak.”

Sabi menatap lurus ke depan. “Bukan itu, tapi gimana kamu tahu kalau aku ... maksudku kita sama.”

Addie tertawa kecil, tak menoleh. “Aku bukan peramal, aku juga nggak ngerti radar-radar begituan."

"Terus ...?" Sabi mengernyitkan dahi.

Addie tersenyum menatap Sabi. "Bunyi notifikasi dari Grindr itu... khas. Kamu lupa matiin notifnya. Dasar pengguna baru.”

Sabi tertawa sendiri dibuatnya, memang dasarnya Sabi tidak terlalu paham menggunakan aplikasi itu, bahkan semalam Sabi sudaih menghapusnya karena dia mengganggap aplikasi itu ribet karena harus diupgrade ke pro, atau dalam kata lain harus merogoh kocek lagi.

"Lagian ngapain main aplikasi dating begitu" sindir Addie menyesap kembali kopinya.

"Iseng aja, siapa tahu nemu jodoh" jawab Sabi asal.

"Berharap jodoh dari aplikasi begituan, itu cuma buat meet, fun, and then saling melupakan"  ujar Addie.

Sabi tersenyum kecil, tak langsung membalas. Ia menatap cangkir kopi yang mulai mendingin, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Kota di hadapan mereka terus bergerak, tapi anehnya, waktu di dalam kafe itu seperti melambat. Setiap detik terasa lebih bermakna, seolah-olah dunia sengaja memberi ruang bagi dua hati yang sedang mencoba memahami satu sama lain.

“Aku nggak nyari yang instan, Ad,” ucap Sabi pelan, suaranya seperti bisikan pada dirinya sendiri. “Aku cuma... nyari yang bisa duduk sama aku begini. Diam. Tapi ngerti.”

Addie menoleh, menatap wajah Sabi dalam cahaya temaram lampu gantung yang menggantung rendah. Ada sesuatu dalam sorot mata itu, rapuh tapi tidak lemah. Jujur, tapi tak meminta belas kasihan.

“Ngerti itu bukan perkara mudah,” kata Addie, lirih. “Kadang ... kita bahkan butuh waktu seumur hidup cuma buat ngerti sama diri sendiri.”

Sabi mengangguk pelan. “Tapi malam ini, entah kenapa... aku ngerasa lebih deket sama tujuanku cari jodoh itu.”

Addie tak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit yang nyaris tanpa bintang, tapi tetap indah dengan pantulan cahaya kota. “Kemaren kamu nggak mau aku godain, malam ini malah ngegodain aku.”

Sabi tersenyum, lembut. “Atau karena kamu bisa jadi tempat aku belajar. Pelan-pelan, tanpa harus buru-buru jadi utuh.”

Addie terdiam. Hanya senyum tipis yang akhirnya muncul, begitu lambat tapi utuh. “Kamu tahu nggak, itu kalimat paling indah yang pernah aku dengar selama tinggal di kota ini.”

Sabi tertawa kecil. “Berlebihan.”

“Serius,” kata Addie, kini nada suaranya lebih lembut. “Di kota yang serba cepat ini, semua orang sibuk mengejar sesuatu, tapi lupa berhenti untuk merasa. Dan kamu datang... dengan cara yang lambat tapi penuh kejujuran. Buatku itu ... langka.”

Angin malam dari sela jendela membawa aroma kopi dan suara musik yang berubah jadi lagu cinta lama, dinyanyikan pelan dengan nada sendu. Mereka duduk dalam keheningan yang penuh makna—sebuah jeda di antara luka dan harapan.

“Aku pernah marah sama dunia karena aku harus jadi seperti ini,” bisik Addie, nadanya nyaris tenggelam dalam musik. “Tapi makin aku melawan, makin aku kehilangan diriku sendiri.”

Sabi menatapnya. “Lalu apa yang kamu lakuin?”

Addie menarik napas panjang. “Aku berhenti bertanya kenapa. Dan mulai belajar mencintai diriku sendiri tanpa harus mempertanyakan kenapa dan mengapa aku jadi kayak gini.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini, bukan karena kebingungan atau jarak, melainkan karena ada sesuatu yang tak perlu dijelaskan. Seperti pelukan dari kejauhan, seperti embun yang tak jatuh namun tetap menyentuh.

Di luar jendela, lampu-lampu kota terus menari, membentuk gugusan bintang buatan yang tak kalah indahnya dari langit yang asli. Dan di dalam ruang itu, dua hati sedang menyala perlahan, nyala yang tak membakar, hanya cukup untuk menghangatkan bagian-bagian dalam diri yang dulu pernah dingin.

Sabi menatap Addie. Wajahnya tenang, matanya berbicara lebih dari apa pun yang bisa diucapkan. Ia masih sulit percaya, bahwa pria yang kemarin hanya sebatas sosok penyembuh tubuh, kini duduk bersamanya... menyembuhkan yang jauh lebih dalam.

“Aku nggak tahu mau ke mana langkah ini,” ujar Sabi pelan, suaranya seperti desir angin yang melewati sela-sela kota. “Tapi kalau kamu nggak keberatan, malam ini... aku ingin berjalan sedikit lebih jauh sama kamu.”

Addie menoleh. Matanya merekam tiap kata. “Apa maksud kamu?” tanyanya, senyumnya samar.

Sabi tertawa kecil, menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya dengan sorot jenaka yang lembut. “Jangan pura-pura nggak mengerti,” katanya lirih. “Mau di kamar aku… atau kamar kamu?”

Addie tertawa, bukan karena menggoda, tapi karena hatinya sedang tersenyum.

Dan dalam bahasa yang kini hanya mereka pahami, ia menjawab, "Wherever your soul finds rest tonight, I’m yours."

Sabi hanya menatap. Tak membalas kata-kata itu dengan kalimat, hanya senyum yang tak selesai... karena malam itu baru akan dimulai. Bukan hanya tentang tempat pulang, tapi tentang keberanian membiarkan diri dicintai, sekali lagi, pelan-pelan.

Bokong yang Kusuka New Era part 4

“Lu belum cerita kenapa lu resign, dan sekarang lu mau kemana?” Erick masih berceloteh, suaranya menyerupai seorang ibu yang tengah menasihati anaknya. Namun di balik gerutunya, tampak ketulusan tak bersyarat ketika Erick membantu Sabi menurunkan koper dari bagasi mobilnya yang terparkir di pelataran Bandara Soekarno-Hatta.

Hari ini, adalah hari Sabi melepas jejak-jejak langkahnya di tanah kelahiran. Di bandara yang ramai ini, Sabi dan Erick bertemu untuk terakhir kalinya. Sahabat yang pernah berbagi atap di negeri seberang, Filipina, kini berdiri di ambang perpisahan.

“Nih,” lirih Sabi, menyodorkan tiket yang diapit erat dalam paspor hijau kesayangannya.

“Singapore?” Erick memicingkan mata, menatap lekat tiket dari maskapai Singapore Airlines yang tersemat di tangan Sabi. “Sejak kapan lu ngelamar kerja di sana?”

“Udah lama,” jawab Sabi, pelan, seraya hendak mengambil alih kopernya, yang baru saja Erick keluarkan.

“Biar gua aja,” ujar Erick, cepat merebut kembali gagang koper itu. “Lu brengsek, nggak cerita.”

“Waktu itu suasana hati lu lagi nggak enak karena mertua lu. Ya kali gua cerita dan seneng-seneng depan lu,” bela Sabi sambil melangkah beriringan menuju terminal 3 keberangkatan.

“Lu emang temen gua paling pengertian, mas,” puji Erick dengan tulus, senyum samar terbit di wajahnya. “Kalo gua tau waktu itu, fix gua bakal iri dan ngelempar lu dari lantai 8 apartemen kita di Manila.”

Sabi terkekeh, tatapannya menelusup dalam ke wajah Erick. Ada perasaan hangat yang menyeruak, bukan hanya persahabatan, melainkan ikatan yang nyaris menyerupai saudara. Tiga tahun telah mereka lalui bersama di negeri orang; suka, duka, tawa, bahkan air mata, mewarnai perjalanan itu. Namun, Erick lebih dulu pulang ke tanah air, meninggalkan Sabi yang baru sekarang menyusul.

“Lu hebat, Mas. Di umur lu yang nggak muda lagi, lu masih aja ngejar cita-cita lu. Sedangkan gua … hidup gua kayak udah mentok di sini aja, pengen gua terbang bebas kayak lu,” lirih Erick, nada suaranya sendu di antara derap langkah kaki yang riuh.

“Segala sesuatu yang kita jalani, nggak ada yang perlu disesali. Lu kenal gua yang sekarang. Coba lu kenal gua yang dulu,” bisik Sabi, matanya menerawang pada bayang-bayang masa lalu. Dirinya yang dulu rapuh, nyaris tak sanggup berdiri, kini menjelma jadi sosok yang mampu melangkah, menata serpihan hidup yang sempat runtuh karena perpisahan dengan Mario.

“Apa yang kurang dari lu, tinggal kurang bini doang lagi,” celetuk Erick, ringan, namun cukup untuk membuat jakun Sabi bergerak menelan kenyataan pahit.

Ah, istri. Batin Sabi berbisik lirih. Seandainya Erick tahu, yang ia rindukan bukanlah seorang istri, melainkan suami dari seorang istri nan cantik: Mario Stevanus. Namun janji telah terucap, janji untuk saling melupakan, untuk membiarkan kenangan larut bersama waktu. Meski telah tiga tahun berteman, Sabi tak pernah sekalipun membuka tabir dirinya di hadapan Erick.

Langkah-langkah mereka terus mengalun, membawa koper, membawa kenangan, menuju gerbang perpisahan yang tak terelakkan.

“Lu emang paling jahat, sumpah,” gerutu Erick, suaranya pelan namun cukup tajam, saat mereka tiba di pintu keberangkatan.

“Iya, maaf,” Sabi melunak, bibirnya mengulas senyum tipis. “Sebenernya gua nggak niat pulang, gua pulang cuma buat resepsi David doang.”

Tak ada jawaban dari Erick. Wajahnya mengerut pelan, diselimuti kecewa yang tak sempat diucapkan.

“Gua janji,” ucap Sabi pelan, jemarinya menggenggam erat gagang koper, “gua bakal pulang lagi, sengaja buat ketemu lu sama bini lu doang.”

Secercah senyum merekah di wajah Erick, seperti matahari yang perlahan menembus awan kelabu.

“Beneran?” sorot mata Erick menangkap dalam-dalam janji Sabi, seakan menggenggamnya di relung hati.

“Anjing!” Sabi menepuk pelan lengan Erick sambil tergelak, “tahun depan gua pulang, udah janji sama Ibu. Kebetulan kakak gua pindah tugas ke Tangerang, jadi bakal deket buat nyamperin lu.”

“Kakak yang mana?” tanya Erick penasaran, bibirnya mengulas senyum geli. “Kakak lu kan banyak, Mas.”

Erick memang sudah mengenal silsilah keluarga Sabi, meski tak pernah tahu luka-luka lama yang pernah memisahkan Sabi dari mereka. Yang Erick tahu, keluarga Sabi kini adalah rumah yang hangat dan utuh.

“Harun,” jawab Sabi singkat, senyumnya tipis, seakan menyimpan ribuan cerita di balik satu nama.

“Ooh, yang cowok! Baguslah,” Erick berseri-seri, “nanti gua temenin Kak Harun setelah dia jadi warga Tangerang.”

“Ya udah, sampe di sini aja,” ucap Sabi, tangannya perlahan menarik koper dari genggaman Erick. Ia menarik napas pelan, tersenyum, lalu merengkuh sahabatnya itu dalam pelukan hangat yang penuh makna. “Makasih ya, lu udah nganterin gua, Rick.”

“Lu hati-hati di sana,” Erick menatap Sabi serius, “kalo lu butuh bantuan … lu tau kan siapa yang harus lu hubungi.”

“Damkar,” jawab Sabi, cekikikan, seolah ingin mencairkan suasana yang mulai berat.

“Ya, itu bener. Tapi gua yang jadi Damkarnya,” balas Erick sambil menepuk dada, menekankan bahwa dirinya selalu siap direpotkan oleh sahabatnya itu.

Sabi melangkah perlahan, menjauh, sementara Erick masih mematung, memandang punggung sahabatnya yang kian menjauh menuju gerbang perpisahan. Tangan Erick terangkat, melambai, menepis angin yang membawa jejak kepergian Sabi.

“I love you, Mas Sabi!” teriak Erick lantang, membuat beberapa pasang mata menoleh, memandang mereka dengan senyum geli. Erick tertawa lepas, puas berhasil membuat Sabi merona malu di tengah kerumunan.

“Putang ina mo!” balas Sabi sambil mengacungkan jari tengah, tawanya menggema pelan, seperti serpihan kenangan yang akan ia bawa jauh melintasi awan.

* * *

Sabi menarik napas panjang, lalu merebahkan tubuhnya dengan perlahan di atas ranjang apartemen barunya yang masih asing. Di sinilah ia kini berpijak—Singapura, tanah baru yang belum sempat ia kenali, namun akan segera menjadi bagian dari hidupnya. Perjalanan panjang dari tanah air menyisakan lelah di tubuhnya, pegal yang menggigil diam-diam di otot-ototnya. Ingin rasanya dipijat, dimanjakan, namun Sabi belum tahu harus melangkah ke mana—segala yang ada di negeri singa ini masih misteri baginya. Yang ia tahu, saat ini ia berada di sebuah sudut kota bernama Orchard.

Masih dalam posisi berbaring, Sabi meraih ponselnya yang tergeletak di sisi ranjang. Jarinya menyentuh layar, membuka galeri foto. Senyum perlahan merekah di wajahnya saat beberapa gambar Mario muncul—foto-foto yang ia ambil diam-diam saat Mario tertidur dalam pelukannya, dulu, saat cinta masih lekat di dada. Senyum itu bukan lagi tentang rindu, tapi tentang keikhlasan yang mulai tumbuh. Dengan hati yang mantap, satu per satu foto itu ia hapus. Sabi ingin menepati janjinya—janji pada diri sendiri, dan pada Mario—untuk berhenti berharap, untuk membuka pintu hatinya yang baru.

Sesaat lamunan itu beralih, pikirannya mulai menjelajah ke hal lain. Terbesit ide nakal dalam benaknya: mendownload aplikasi kencan. Ia masih ragu, masih menimbang-nimbang, aplikasi macam apa yang harus ia pilih—apakah yang dikhususkan untuk lawan jenis, atau justru untuk sesama jenis. Tapi otaknya yang jenaka menggoda, “Kayaknya cowok Singapore lucu-lucu juga, coba aja kali ya.”

Tak lama, aplikasi bernama Grindr berhasil diunduh. Tanpa banyak ragu, Sabi memasang foto dirinya, foto asli yang ia ambil saat berlibur ke Thailand—tidak sensual, tidak mencolok, hanya dirinya dalam bentuk yang paling sederhana. Ia memilih untuk tidak mengisi kolom biodata, sebab menurutnya, kata-kata hanya membuat segalanya terasa terlalu panjang, terlalu bertele-tele.

Jari-jarinya mulai menjelajah. Ia menelusuri profil demi profil, sebagian besar menampilkan tubuh-tubuh yang dipamerkan dengan gaya menggoda, dengan kepercayaan diri yang tak dimiliki Sabi.

“Lucu nih. Ini juga lucu,” gumamnya pelan, sambil terus menggeser layar. Namun meski berkali-kali menyebut lucu, tak satu pun membuatnya benar-benar ingin mengetik, menyapa, atau memulai sesuatu.

Sampai akhirnya … layar tak lagi bisa digeser.

“Ya elah, brengsek. Harus bayar segala,” umpat Sabi sambil memanyunkan bibirnya, kecewa karena tak bisa lagi melihat profil pengguna lain tanpa membayar.

Sabi meletakkan ponselnya di samping bantal, menghela napas pelan seperti ingin meniup jauh segala kekosongan yang menggelayut di dadanya. Malam telah turun sepenuhnya di Orchard, namun lampu-lampu kota masih menyala terang, seakan tak memberi ruang bagi gelap untuk menguasai. Dari jendela kamarnya yang terbuka sedikit, suara deru kendaraan dan nyanyian kota asing itu masuk perlahan, menjadi pengingat bahwa ia kini benar-benar sendirian.

Ia memejamkan mata, mencoba mencerna semuanya—keputusan untuk pergi, untuk memulai dari awal, dan untuk berani melepaskan bayangan Mario yang selama ini mengikat langkahnya.

Malam itu, tanpa disadari, matanya basah. Bukan karena penyesalan, tapi karena keberanian yang tak mudah—keberanian untuk melupakan, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya.

“Gua harus bahagia,” bisiknya nyaris tak terdengar, seolah mantra untuk menenangkan diri.

Pagi menyambut dengan angin hangat dari ventilasi kecil di kamar itu. Sabi terbangun dengan mata sedikit sembab, tapi senyum terbit di wajahnya. Hari pertama di Singapura akan segera dimulai, dan entah kenapa, ada getar kecil dalam dadanya—campuran antara gugup, penasaran, dan harapan.

Setelah mandi singkat dan meneguk kopi instan yang ia temukan di laci dapur apartemen, Sabi membuka laptopnya. Ia mulai mencari tempat kerja yang akan ia datangi lusa—mencatat alamat, jalur MRT, jalur Bus dan berapa menit waktu tempuh dari apartemen ke kantor.

Namun, sebelum ia menutup laptop, jemarinya mengetik sesuatu di tab baru:
Massage & spa near Orchard Road, Singapore.

“Siapa tahu ada diskon buat orang galau,” katanya sambil terkekeh pelan.

Beberapa hasil pencarian muncul, dan salah satunya menarik perhatiannya—tempat kecil, bernuansa kayu dengan interior hangat dan ulasan pelanggan yang menyebut suasananya “tenang, seperti pelukan masa lalu yang tidak lagi menyakitkan.”

“Kayaknya oke juga,” gumamnya.

Sabi mengambil ponselnya kembali, membuka aplikasi Grindr sekilas. Notifikasi belum ada. Ia tersenyum kecil, lalu mematikan aplikasinya.

Hari itu ia memilih berjalan kaki menyusuri Orchard, membiarkan langkahnya mengenal aspal yang baru, gedung-gedung tinggi yang belum menyapanya, dan wangi udara yang belum sempat ia eja. Ia menyapa setiap penjaja kopi, setiap kursi taman, dan setiap bayangannya yang terpantul di kaca toko—seolah sedang memperkenalkan Sabi yang baru, yang kini sedang belajar untuk hidup sekali lagi.

Pintu kaca terbuka dengan desis pelan saat Sabi melangkah masuk ke dalam ruangan spa yang remang dan hangat. Aroma eucalyptus dan chamomile menyambutnya, seperti sapaan diam dari tempat asing yang ingin memberi pelipur. Di balik meja resepsionis berdiri seorang wanita muda berseragam krem elegan, wajahnya teduh dan profesional, dengan senyum yang menyiratkan keramahan khas tempat berkelas.

“Good afternoon, sir. Do you have a booking today?” tanyanya dengan suara tenang, nyaris seirama dengan musik instrumental yang mengalun dari speaker tersembunyi.

Sabi membalas dengan percaya diri, suaranya rendah tapi jernih.

“Good afternoon. No booking—I was just passing by and thought I’d try your massage service. It’s been a long flight and my back is killing me.”

Wanita itu mengangguk sambil mengetik cepat di layar komputernya.

“We can fit you in within the next 10 minutes, sir. May I know your name and nationality for the record?”

“Sabi. I’m from Indonesia,” jawabnya sambil tersenyum kecil, sopan tapi tak berjarak.

Senyum wanita itu mengembang sedikit.

“Ah, Indonesia! One moment, please.”

Ia menoleh ke arah lorong dan memanggil seseorang dengan suara yang lembut namun tegas.

“Addie, we have a walk-in guest. He’s Indonesian—can you take this one?”

Langkah kaki terdengar semakin dekat. Dari ujung lorong, muncul seorang pria tinggi dengan kulit cokelat bersih dan senyum hangat yang tak dibuat-buat. Matanya menyapu wajah Sabi dengan tenang, lalu berhenti sebentar di sana—seolah ada sesuatu yang terasa familiar, meski mereka belum pernah saling mengenal.

Addie menyodorkan tangan dengan gestur yang ringan dan bersahabat.

“Hi, I’m Addie. Welcome.”

Sabi menyambut uluran tangan itu, lalu menjawab dengan nada yang lembut, “Sabi. Thanks for taking me in.”

“Pleasure’s mine. A fellow Indonesian, huh?” Addie mengangkat alis sedikit, nada suaranya santai dan menyenangkan.

“Yeah. Just arrived yesterday. Still figuring out Orchard and everything else,” jawab Sabi sambil tersenyum.

Addie mengangguk sambil mempersilakan Sabi mengikuti langkahnya melewati lorong remang menuju salah satu ruang terapi.

“Then let me help you settle in a bit. We’ll start with a basic deep-tissue, unless there’s something specific you need?”

Sabi menjawab ringan, “Just trust your hands.”

Satu kalimat yang membuat Addie menoleh sebentar, tak berkata apa-apa, hanya tersenyum kecil—senyum yang mungkin tak semua orang bisa artikan, kecuali mereka yang pernah merasa betapa pentingnya disentuh bukan hanya dengan tangan, tapi dengan pengertian.

Lampu dalam ruangan terapi itu temaram, nyaris keemasan. Wangi lavender menggantung di udara, menenangkan. Di sudut ruangan, suara air mengalir dari miniatur air mancur membawa kesan alam ke dalam ruangan modern itu. Sabi berbaring tengkurap di atas ranjang pijat, tubuhnya dilapisi handuk tipis yang menghangat, sementara Addie tengah mempersiapkan minyak di tangannya.

“Do you feel comfortable?” tanya Addie lembut, nadanya nyaris seperti bisikan.

Sabi hanya mengangguk pelan, matanya terpejam, mencoba melepaskan beban yang tertinggal dari perjalanan panjang dan masa lalu yang masih membayang.

Sentuhan pertama Addie seperti aliran air hangat yang menyusup ke dalam otot-otot yang tegang. Jemarinya tak hanya memijat, tapi seolah mengerti ritme kelelahan seseorang. Hening yang tercipta bukan sunyi—melainkan ruang yang memungkinkan keduanya mendengar isi pikirannya sendiri.

Beberapa menit berlalu dalam kesenyapan yang tak janggal, hingga Addie akhirnya berkata, pelan dan tenang, “Sebenernya, aku juga dari Indonesia.”

Sabi membuka matanya perlahan, masih menatap lantai dari sela lubang wajah di ranjang pijat. Ada jeda, sebelum ia membalas, “Aku sempat curiga dari logat Inggris kamu. Tapi kamu menyebut namamu dengan sangat netral tadi. Dari nametag kamu harusnya dipanggil Eddi tapi kamu kedengeran nyebut Adi.”

Adi terkekeh pelan, “Sengaja. Terkadang aku butuh ruang di mana aku bisa jadi siapa saja.”

“Dan kadang justru ingin ditemukan oleh yang tahu dari mana kita berasal,” balas Sabi tanpa sadar, kata-katanya mengalir, nyaris seperti refleksi batin.

Adi tidak menjawab. Tapi pijatannya melambat, lebih dalam, seperti ada yang bergeser—dari profesional menjadi personal, dari rutinitas menjadi pertemuan dua keheningan yang saling bicara.

Tangan Adi bergerak ke bahu Sabi, lalu ke lengannya, lalu berhenti sebentar di sana, menggenggam sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

“Kayaknya kamu bukan cuma capek badan,” ujar Adi lirih, nadanya seperti ingin menyelami, bukan menanyakan.

Sabi menghela napas panjang, tapi tak menjawab. Lalu ia berkata, nyaris seperti gumaman, “Kadang kita datang ke tempat seperti ini bukan cuma untuk rileks. Tapi buat merasa... dipegang. Dipahami.”

Adi tak menyela. Ia hanya berdiri diam, tangannya masih hangat di kulit Sabi, lalu berkata dengan suara yang nyaris tak terdengar, “Aku ngerti.”

Suasana di ruangan terapi itu seakan berubah menjadi milik mereka berdua—sunyi, tapi penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan. Setiap gerakan tangan Adi seakan menghubungkan Sabi dengan sesuatu yang lebih dalam, yang lebih lama terkubur dalam dirinya. Pijatan yang dimulai dengan profesional, perlahan menjadi lebih hati-hati, lebih penuh perhatian. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar otot-otot yang dipijat, seperti jiwa mereka saling bersentuhan tanpa sengaja.

Sabi merasakan hangatnya minyak yang meresap ke kulitnya, memberi rasa lega pada setiap tekanan yang terasa begitu akrab di bahunya, namun ada hal lain yang mulai terasa—suatu getaran halus yang mengalir melalui aliran darahnya, menggugah sesuatu yang selama ini terkubur dalam kedalaman hati.

Adi melanjutkan pijatan di sepanjang punggung Sabi, jarinya yang lentur dan terampil menyusuri otot-otot yang tegang. Setiap gerakan terasa begitu lembut, namun penuh dengan ketelitian, seakan tahu persis di mana titik-titik kelembutan itu tersembunyi.

“Relax, Sabi. Let yourself go,” suara Adi begitu dalam, seperti melodi yang menenangkan meski ada rasa lain yang timbul dari dalamnya.

Sabi menutup matanya, mendengarkan suara itu, meresapi sentuhan yang terasa begitu pribadi—lebih dari sekadar relaksasi fisik. Ada kedekatan yang sulit dijelaskan, seolah tubuh mereka berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh kedua jiwa yang tengah bersinggungan di ruang kecil itu. Setiap tekanan yang diberikan Adi semakin dalam, namun seiring itu pula ada perasaan lain yang mulai menggetarkan—sesuatu yang menyentuh sisi yang lebih sensitif dari dirinya, tapi tak sepenuhnya bisa ia pahami.

Jari-jari Adi melintasi kulitnya dengan lebih perlahan, dengan perhatian yang membuat Sabi merasa seperti ia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang sedang diperlakukan dengan begitu istimewa. Rasanya seperti dunia mereka menyempit menjadi ruang itu, tak ada yang lebih penting selain setiap sentuhan, setiap helaan napas yang tercipta.

Adi kemudian berhenti sejenak, tangan besar itu bertumpu pada punggung Sabi, menekan perlahan di sepanjang tulang belakangnya. Hanya ada suara napas mereka yang saling bersaing dalam keheningan itu.

“Feeling okay?” tanya Adi, suaranya sedikit lebih dalam dari sebelumnya, tapi tidak terburu-buru. Ada ketenangan dalam kata-katanya yang membuat Sabi seakan ingin terus berada dalam momen ini, dalam ruang kecil yang penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan.

Sabi mengangguk perlahan, tetapi ada sesuatu yang ia rasa semakin menguat—perasaan yang melambung di dalam dirinya. Ia tak tahu apakah ini hanya karena rasa lelah yang mengaburkan pengertiannya atau apakah ada sesuatu yang lebih dalam yang tengah terjadi di antara mereka berdua. Namun satu hal yang pasti, detik-detik itu terasa begitu intens, seakan waktu melambat begitu mereka berada dalam keheningan ini.

Adi terus melanjutkan pijatannya, namun gerakannya semakin berhati-hati, semakin dalam. Tangan Adi meluncur dengan lebih lembut, menyusuri setiap lekuk tubuh Sabi dengan penuh perhatian. Tidak ada kata-kata yang lebih dibutuhkan. Hanya keheningan yang mengalir begitu dalam, begitu penuh makna.

Setiap jari yang menekan, setiap genggaman yang seakan berbicara tanpa kata-kata, terasa seperti percakapan yang lebih pribadi antara keduanya. Sabi merasa dirinya tertarik ke dalam dunia ini, dunia yang hanya terdiri dari suara napas dan sentuhan yang tidak bisa dijelaskan.

''Berbalik, Sab" titah Adi saat pijatan di bagian belakang Sabi sudah selesai.

"Sorry" ucap Sabi saat ia menyadari tak hanya bulu kuduknya yang berdiri, namun ada sesuatu yang mendesak ikut berdiri di bawah sana.

Sejak tadi Sabi memang ereksi merasakan pijatan lembut nan sensual dari Adi yang tak sengaja menyentuh area sensitifnya.

Adi tersenyum, "Never mind, aku bisa lakuin lebih kalau kamu mau?''

Sabi ikut tersenyum saat Adi berkata seperti menggodanya, walaupun Adi termasuk tipikal lelaki yang menurut Sabi berparas tampan dan menarik, namun Sabi tahu betul pekerjaan yang dilakukan Adi. Ada harga yang harus dibayar Sabi jika saja Sabi mengiyakan permintaan Adi.

"I don't have a lot of money" ucap Sabi memejamkan matanya, tak ingin membuang uang hanya untuk melakukan hal yang memang sangat ingin Sabi lakukan.

"I don't need your money" ujar Adi mulai berani menyentuh titik paling sensitif di tubuh Sabi.